Selama ada kemauan yang kuat, segala masalah pasti dapat teratasi. Karena dunia ini letaknya di tangan bukan di hati

Tuesday, April 13, 2010

Resensi Buku

Judul buku : Laskar Pelangi

Jenis buku : Nonfiksi

Pengarang : Andrea Hirata

Penerbit : Bentang Pustaka, Yogyakarta

Tahun : 2005

Tebal buku : xxxxxxxx + 534 halaman

Novel ini mengambil setting di pulau Belitong, Sumatra. Belitong dulu merupakan perkampungan yang sangat kumuh dan tidak terlalu mengenal dunia luar, sangatlah tragis membacanya. Tembok yang sangat tinggi di Belitong untuk membatasi antara perkampungan dan perkotaan yang dihuni oleh orang-orang yang berpendidikan tingggi, berwawasan luas , dan hidup makmur. Orang Melayu Belitong menyebutnya “Gedong”.

Pengarang menceritakan masa kecilnya bersama ke sepuluh temannya. Anak Melayu Belitong yang luar biasa dan tak pantang menyerah walau keadaan tidak bersimpati kepada mereka. Kesebelas anggota Laskar Pelangi itu adalah Lintang, Mahar, Ikal( pengarang ), Kucai, Syahdan, A Kiong, Samson, Harun, Trapani, Sahara dan Flo. Mereka semua adalah anak Belitong yang berwajah pas-pasan kecuali Trapani. Dia anak yang paling tampan dikelas itu.

Kesebelas anak-anak ini mempunyai karakter yang unik. Ikal yang mempunyai banyak mimpi, Harun yang selalu tersenyum apapun terjadi padanya, Trapani yang sangat rupawan, Syahdan yang liliput bercita-cita ingin menjadi seorang aktor, Kucai yang sok gengsi, Sahara yang ketus, Flo anak perempuan seperti laki-laki tidak takut oleh apapun, A Kiong yang sangat polos dan Samson pria kesembilan yang sangat kekar tubuhnya.

Pria kesepuluh dan kesebelas yaitu Lintang dan Mahar. Mereka adalah pria yang paling istimewa. Lintang, seorang kuli kopra cilik yang sangat genius dan dengan senang hati bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk memuaskan dahaganya akan ilmu bahkan terkadang hanya untuk menyayikan lagu Padamu Negeri diakhir jam sekolah. Dia yang membuat kesepuluh sahabat-sahabatnya selalu berfikir optimis dan dia yang mengangkat nama Sekolah Muhamadiyah pada saat lomba cerdas cermat se-Belitong.

Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus.

Dalam novel ini, Andrea Hirata menampilkan kehidupan nyata para anggota Laskar Pelangi, kujujuran pemikiran mereka, indahnya petualangan dan semangat pantang menyerahnya mereka. Didalam novel ini juga menggambarkan tentang terpuruknya dunia pendidikan seperti halnya Lintang, si genius ini putus sekolah hanya karena tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan sekolah. Dunia pendidikan hanya melihat orang-orang golongan atas dan tidak menoleh ke bawah. Padahal, ada anak genius seperti Lintang yang dapat mengangkat nama Indonesia.

Banyak amanat-amanat yang dapat kita ambil dari novel ini. Kerja keras yang tidak pantang menyerah digambarkan oleh sosok Syahdan. Waktu kecil dia bercita-cita ingin menjadi seorang aktor tetapi dia tidak mempunyai bakat apapun dan dia hanya seorang pesuruh. Tetapi keajaiban menghampiri dia. Setelah lulus SMA dia mencoba untuk mempelajari ilmu komputer dan ia mendapatkan beasiswa ke Universitas Kyoto di Jepang, sekarang dia menduduki posisi sebagai Information Technology Manager disebuah perusahaan multinasional. Dari sudut pandang material, dia adalah orang yang paling sukses diantara para anggota Laskar Pelangi.

Siapapun yang membacanya akan termotivasi dan merasa berdosa jika tidak mensyukuri hidup. Cerita Laskar Pelangi sangat inspiratif. Andera Hirata menulis sebuah novel yang mengobarkan semangat mereka yang selalu dirundung kesulitan dalam menempuh pendidikan.

Pengarang menegaskan bahwa pendidikan adalah memberikan hati kita kepada anak-anak, bukan sekedar memberikan intruksi atau komando, dan bahwa setiap anak memiliki potensi unggul yang akan tumbuh menjadi prestasi cemerlang di masa depan. Apa yang tercantum dalam buku ini dapat membangunkan semangat bangsa yang sudah mati suri dan mendorong kita untuk selalu mensyukuri hidup.***(Anisa Saraswati. pelajar kelas X.5 SMAN 2 KUNINGAN)